Friday, June 2, 2017

Bobotoh Santun VS Bobotoh Aja

Sebagai sebuah klub besar, Persib Bandung juga memiliki banyak pendukung yang biasa dikenal dengan nama "Bobotoh". Nama ini diambil dari bahasa Sunda yang memiliki arti "orang yang mendukung" atau "orang yang mendorong semangat", dalam bahasa kerennya yang kita kenal sebagai Supporter.

Jadi, secara umum  bisa diartikan sebagai setiap individu atau orang yang mendukung Persib adalah Bobotoh. Terlepas dari etnis, rasa, agama atau pun suku dari individu tersebut.  Bobotoh ada yang terafiliasi dengan kelompok tertentu seperti Viking Persib Club, Bomber Persib dan juga sebagainya. Tetapi ada juga yang tidak.


Menjadi sebuah pertimbangan sekarang adalah adanya istilah Bobotoh Santun. Istilah ini mulai dikenal setelah Ridwan Kamil menjadi Walikota Bandung dan mengajak Bobotoh Persib untuk lebih bisa menjaga perilaku mereka di luar lapangan.

Bukan cerita yang baru, bila warga di Bandung mendengar atau melihat kelakuan para Bobotoh di luar lapangan yang tidak tertib. Seperti melanggar lampu merah, tidak menggunakan helm bahkan menghentikan arus lalu lintas sementara mereka berjoget tak karuan.

Ajakan untuk menjadi Bobotoh santun adalah sebuah ajakan agar bobotoh terlihat lebih baik di luar lapangan. Perilaku militan dan penuh intimidasi ke tim lawan saar mendukung Persib di lapangan adalah sebuah hal yang wajar tentunya.

Selain untuk meningkatkan semangat tim, hal tersebut juga bertujuan agar mental lawan kalah ketika bermain melawan Persib. Siapa yang ingin melihat Persib kalah di kandangnya? Tentunya tidak ada bobotoh yang mau hal itu terjadi.

Tetapi, tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa berada di jalan berbeda dengan berada di lapangan. Saat berada di jalan banyak aturan serta hak pengguna jalan lain yang harus dihormati dan dihargai. Ada fasilitas dan hak warga lain yang harus kita jaga sebagai orang yang beradab dan mencintai kota Bandung tentunya.

Konsep yang sekarang mulai muncul adalah menjadi bobotoh santun berarti bisa menerima dan senang melihat Persib bermain jelek atau kalah. Komentar-komentar tersebut bisa kita lihat dibanyak akun social media yang mengatasnamakan supporter Persib. 

Entah maksud dan tujuannya apa, yang jelas penyimpangan opini adalah sebuah bentuk provokasi yang kurang enak untuk diterima sebenarnya. Karena sama sekali tidak ada korelasinya antara menjadi santun di jalan dan senang dengan Persib bermain jelek atau bahkan kalah.

Menjadi santun adalah sebuah hal, kemenangan Persib adalah hal yang lain. Tidak ada korelasinya.

Kesimpulannya adalah jadilah bobotoh yang sadar diri dimana kalian berada. Buas dan militanlah di lapangan, Santunlah di Jalan, Karena semua ada tempat dan waktunya. Malah jadi aneh bila hidup di Bandung senang melawan aturan atas dasar mendukung Persib, Percayalah, tidak ada korelasinya antara mendukung Persib dan melawan aturan.



   




Persib di Liga 1 Gojek-Traveloka. Apa Masalah Persib Lagi?

Persib memang tampil kurang greget di musim pertama Gojek-Traveloka ini. Berbagai masalah timbul untuk tim besar yang sangat menjanjikan untuk menjadi juara Liga 1 Gojek-Traveloka. 
Tapi kenyataannya? Persib terseok-seok! Mari kita bahas masalah Persib satu per satu.

Regulasi Pemain Muda 


Regulasi pemain Liga 1 mengharuskan tiga orang pemain U-22 hasil didikan junior untuk tampil bermain selama minimal 1 babak. Dengan adanya regulasi ini, para pelatih di Liga 1 memang agak kesulitan untuk menemukan formasi terbaiknya, begitu juga dengan Persib.
Salah satu maslaah utama yang dimiliki oleh Persib adalah pemain U-22 yang masih belum matang untuk bermain di tingkat senior. Entah karena gorgi atau karena skill yang memang kurang memadai. 
Bila kita lihat hanya ada 3 pemain U-22 yang pasti selalu menjadi pilihan utama yaitu Gian Zola, Febri Haryadi dan juga Hen Hen Herdiana. 
Persib  beruntung bisa mengontrak Billy Keraf setelah pertandingan kedua saat melawan PS TNI. Sehingga memberikan sedikit pilihan untuk pemain U-22 yang mereka miliki. Entah apa yang terjadi dengan Ahmad Basith, Agung atau juga Angga dan pemain muda Persib lainnya yang sepertinya tidak terlalu mendapatkan kesempatan utuk bermain.  


Komposisi Pemain


Kedatangan Ession ke Persib seolah menjadi buah simalakama. Kenapa? Karena posisi Essien sebagai gelandang tengah sebenarnya sudah ditempati oleh tiga pemain yaitu Hariono, Kim Jeffrey dan juga Dedi Kusnandar. Pertanyaan sejuta umat yang timbul adalah,"Emangnya Persib masih butuh gelandang tengah?"  
Dengan datangnya Essien membuat bagian ini benar-benar penuh sesak, ditambah lagi dengan regulasi pemain muda. Otomatis babak pertama sudah pasti dimiliki oleh Gian dan Febri dibagian gelandang. 
Yang menjadi masalah adalah banyaknya stok gelandang tersebut, sama sekali tidak ada tipikal gelandang yang berperan sebagai pengatur serangan. Kedatangan Maitimo ke Persib juga tidak membawa pengaruh signifikan, karena Maitimo seolah-olah hanya hadir sebagai pemain mahal lainnya yang juga bermain kurang optimal.
Sergio mengalami cedera selepas Piala Presiden dan baru bisa bermain setelah Persib menjalani laga ke-6. Sementara Carlton Cole sama sekali tidak bisa beradaptasi dengan permain ala Indonesia yang cepat dan penuh dengan kontak fisik. Dia masih sulit berlari dan menemukan  posisi terbaiknya.

Skema Permainan Persib


Dibawah asuhan Djajang Nurjaman, Persib mengandalkan permainan  menggunakan formasi 4-2-3-1. Dimana untuk bagian sayap diberikan kepada Atep dan Febri. Sedangkan untuk gelandang bertahan masih menjadi sebuah posisi wildcard antara Haryono, Essien, Kim, dan Dedi, Sementara Zola berebut posisi dengan Maitimo, yang mana Zola akan dipasang di awal babak pertama.
Masalah utama ada di bagian penyerang karena tidak ada pemain yang bisa diandalkan. Cole tidak bisa menjadi pilihan utama sementara Sergio masih harus beradaptasi. Begitu juga dengan Angga yang masih belum bisa diandalkan secara penuh, sedangkan Tantan posisinya kadang dijadikan pemain sayap.
Dengan mengandalkan permainan sayap dengan menggunakan umpan silang ke area kotak pinalti, tidak ada pemain yang menerima umpan tersebut. Dengan memarkir dua orang gelandang bertahan, Persib sangat kesulitan dalam menghadapi serangan balik dari tim lawan karena posisi pemain sudah terlalu ke depan dan sulit untuk kembali ke posisi dalam waktu yang singkat.
Jarak antar pemain juga menjadi masalah karena pemain Persib sering bermain dengan jarak yang terlalu jauh sehingga umpan-umpan pendek Persib sering dipotong lawan dengan mudah.
Kemampuan pressing dari Persib juga sangat lemah sehingga sulit sekali untuk merebut bola dari pemain lawan ketika terjadi serangan balik.

Sebenarnya Persib tidak mengalami masalah yang krusial banget, selain sulit menang dan sering kecolongan gol ketika menit-menit akhir. Uraian diatas sebenarnya hanya analisa dari apa yang bisa kita lihat ketika Persib bermain.
Memang Liga 1 masih lama berjalan, tetapi grafik permainan Persib malah menurun setiap minggunya. Seolah-olah tidak ada evaluasi atau pembelajaran sama sekali dari setiap pertandingan.
Semoga ini hanya sementara saja.